M E T O D
E K R I T I K
T E R U K U R
H A K I K A T M E T O D E K R I T I K T E R U K U R
Kritik Pengukuran
menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi
sebagai :
• Norma pengukuran digunakan untuk memberi
arah yang lebih kuantitatif. Hal ini sebagai bentuk analogi dari ilmu
• Pengolahan melalui statistik atau teknik
lain akan mengungkapkan informasi baru tentang objek yang terukur dan
• Bilangan atau standard pengukuran secara
khusus memberi norma bagaimana bangunan diperkirakan
• Standardisasi pengukuran dalam desain
bangunan dapat berupa :
Ukuran batas minimum
atau maksimum, Ukuran batas rata-rata (avarage), Kondisi-kondisi yang
dikehendaki
Contoh : Bagaimana
Pemerintah daerah melalui Peraturan Tata Bangunan menjelaskan beberapa sandard yang
diijinkan.
• Adakalanya standard dalam pengukuran tidak
digunakan secara eksplisit sebagai metoda kritik karena masih
Contoh :
Bagaimana Huxtable menjelaskan tentang kesuksesan
perkawinan antara seni di dalam arsitektur dengan bisnis
• Norma atau standard yang digunakan dalam
Kritik pengukuran yang bergantung pada
ukuran
Tujuan dari bangunan biasanya diuraikan dalam tiga
ragam petunjuk sebagai beikut:
Tujuan Teknis ( Technical
Goals)
Kesuksesan bangunan dipandang dari segi
standardisasi ukurannya secara teknis
Contoh :
Sekolah, dievaluasi dari segi pemilihan dinding
interiornya. Pertimbangan yang perlu dilakukan adalah :
1.
Stabilitas Struktur
•
Daya tahan
terhadap beban struktur
•
Daya tahan
terhadap benturan
•
Daya dukung
terhadap beban yang melekat terhadap bahan
•
Ketepatan
instalasi elemen-elemen yang di luar sistem
2.
Ketahanan Permukaan Secara Fisik
•
Ketahanan
permukaan
•
Daya tahan
terhadap gores dan coretan
•
Daya serap dan
penyempurnaan air
3.
Kepuasan Penampilan dan Pemeliharaan
•
Kebersihan dan
ketahanan terhadap noda
•
Timbunan debu
Tujuan Fungsi ( Functional
Goals)
Berkait pada penampilan bangunan sebagai lingkungan
aktifitas yang khusus maka ruang harus dipenuhi melalui penyediaan suatu area
yang dapat digunakan untuk aktifitas
Pertimbangan yang
diperlukan :
• Keberlangsungan fungsi dengan baik
• Aktifitas khusus yang perlu dipenuhi
• Kondisi-kondisi khusus yang harus diciptakan
• Kemudahan-kemudahan penggunaan,
• Pencapaian dan sebagainya.
Tujuan Perilaku
( Behavioural Goals)
Bangunan tidak saja bertujuan untuk menghasilkan
lingkungan yang dapat berfungsi dengan baik tetapi juga lebih kepada dampak
bangunan terhadap individu dan Kognisi mental yang diterima oleh setiap orang
terhadap
kualitas bentuk fisik bangunan. Behaviour Follow
Form
• Lozar
(1974), Measurement Techniques Towards a Measurement Technology in
Carson, Daniel,(ed) “Man- Environment Interaction-5” Environmental Design
Research Association, menganjurkan sistem klasifikasi ragam elemen perilaku
dalam tiga kategori yang relevan untuk dapat memandang kritik sebagai respon
yang dituju :
Persepsi Visual Lingkungan Fisik
• Menunjuk
pada persepsi visual aspek-aspek bentuk bangunan. Bahwa bentuk-bentuk visual
tertentu akan berimplikasi pada kategori-kategori penggunaan tertentu.
Sikap umum terhadap aspek lingkungan fisik
• Hal ini
mengarah pada persetujuan atau penolakan rasa seseorang terhadap berbagai ragam
objek atau situasi
• Hal
ini dapat dipandang sebagai dasar untuk mengevaluasi variasi penerimaan atau
penolakan lingkungan lain terhadap keberadaan bangunan yang baru.
Perilaku yang secara jelas dapat diobservasi secara
langsung dari perilaku manusia.
• Dalam
skala luas definisi ini berdampak pada terbentuknya pola-pola tertentu
(pattern) seperti : Pola pergerakan, jalur-jalur sirkulasi, kelompok-kelompok
sosial dsb.
• Dalam
skala kecil menunjuk pada faktor-faktor manusia terhadap keberadaan furniture,
mesin atau penutup permukaan.
• Teknik
pengukuran dalam evaluasi perilaku melalui survey instrumen-instrumen tentang
sikap, mekanisme simulasi, teknik interview, observasi instrumen, observasi
langsung, observasi rangsangan sensor.
PERPUSTAKAAN UBL
Kriteria yang baik dari sebuah
gedung perpustakaan yaitu adanya keterkaitan antara faktor internal dan faktor
eksternal perpustakaan. Faktor internal perpustakaan yaitu efektif, efisien,
dan aman bagi para pengguna, sedangkan faktor eksternal seperti bencana alam,
banjir, gempa bumi, sinar matahari, dan lain-lain.
Berdasarkan hal-hal tersebut maka
English architect Faulkner Brown memberikan dasar perencanaan dan desain
perpustakaan agar gedung perpustakaan menjadi berkualitas, yang selanjutnya
disebut sebagai “Faulkner-Brown’s Ten Commandments”. Adapun sepuluh hal tersebut
adalah sebagai berikut:
1.
Fleksibel terhadap tata letak, struktur, dan layanan
yang mudah beradaptasi.
Fleksibel maksudnya adalah bentuk ruang dan peralatan dapat dirubah dan dipindahkan sewaktu-waktu. Khususnya pada ruang baca, ruang petugas, dan ruang pengolahan. Semua dinding-dinding tersebut sebaiknya dinding yang semi permanent atau dapat dibongkar, namun hal ini tidak termasuk pada toilet, tangga, dan lift. Selain itu perpustakaan yang fleksibel juga harus menyediakan ventilasi dan pencahayaan yang cukup.Sesuai dengan standar diatas pada perpustakaan UBL ini mengunakan rak buku dan peralatan yg dapat dirubah dan dipindahkan sewaktu-waktu. Pada ruangan arsip tugas akhir hanya mngnakan dinding partisi/dinding yang semi permanent atau dapat dibongkar. Untuk ventilasi dan pencahayaan sebenarnya perpustakaan ini miliki banyak bukaan namun tidak difungsikan dengan maksimal sehingga pencahayaan didalam krang baik dan karna ventilasi yg tidak difngsikan rangan ini lebih mengunakan AC.
2. Mudah
diakses
Accessible
(mudah dijangkau) merupakan faktor penting. Baik akses ke seluruh ruang yang
ada maupun akses koleksi yang ada di perpustakaan, keduanya harus mudah
diakses.
Posisi yang
paling mudah dicapai adalah di posisi tengah, karena pada posisi tengah perustaka
dari berbagai arah dapat menjangkaunya dengan cepat. Lokasi harus
diperhitungkan dengan cermat, yaitu perpustakaan harus ditempatkan dekat dengan
jalur sirkulasi utama atau lalu lintas utama.
Pintu perpustakaan
Perpustakaan
yang tidak mudah diakses dikarnakan berada dilantai 2 dan tidak dapat dijangkaunya
dengan cepat membuat perputakaan sepi.
3.
Bervariasi dalam penyediaan ruang pembaca
Variasi
suasana perpustakaan sangat penting. Harus ada berbagai suasana untuk mengatasi
kebutuhan pengguna yang memiliki motif yang berbeda dan tujuan datang menggunakan perpustakaan. Misalnya, mereka
datang ke perpustakaan untuk belajar, menulis makalah, membaca koran, bertemu
teman-teman, browsing dan sebagainya. Untuk memuaskan mereka harus ada beberapa
lokasi yang berbeda atau daerah yang disediakan dalam perpustakaan.
Meskipun sebagian besar pengguna perpustakaan
universitas adalah mahasiswa, tidak dapat diabaikan bahwa mereka mungkin di
sini banyak preferensi yang berbeda mengenai lingkungan mereka. Beberapa suka
berteman, sementara lainnya lebih suka privasi, beberapa seperti pandangan,
sementara lainnya tidak memerlukan gangguan visual sama sekali. Untuk
mengantisipasi ini, memberikan banyak akomodasi tempat duduk bervariasi mungkin
sangat membantu. Misalnya, carrels di ceruk untuk diam dan lebih terkonsentrasi
membaca, tatap muka duduk akomodasi yang memungkinkan beberapa diskusi, tempat
duduk yang nyaman dengan kursi untuk santai dan sebagainya. Hal ini tidak hanya
memenuhi kebutuhan pengguna, tetapi juga menambah warna dan bunga ke interior
perpustakaan.
Suasana di perpustakaan
di perpustakaan ini tidak banyak terdapat Suasana, kita hanya akan merasakan kebosanan bila berada di perpustakaan dalam waktu yang lama .
KESIMPULAN
perpustakaan
ini
belum cukup bail berdasarkan beberapa kriteria namun ada cukup banyak bangunan
perpustakaan baik dalam eksistensi berdasarkan keriteria yang baik untuk
membuktikan relevansi dan nilai dalam perencanaan perpustakaan modern, seperti
perpustakaan universitas nottingham, perpustakaan universitas st andrew, dan
perpustakaan universitas teknologi loughborough, semua di united kingdom.








